
Tanpa Data, Brand Jangan Ikut Live Commerce
Live Commerce Sedang Naik Daun, Tapi Tidak Semua Brand Siap
Live commerce telah berkembang dari sekadar fitur tambahan di platform digital menjadi salah satu kanal penjualan paling berpengaruh dalam ekosistem e-commerce Indonesia. Setiap hari, ribuan sesi live berlangsung di berbagai platform seperti TikTok Shop Live, Shopee Live, Instagram Live, hingga marketplace lainnya. Mulai dari UMKM, reseller, hingga brand besar berlomba-lomba memanfaatkan format ini untuk meningkatkan penjualan dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen.
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Dibandingkan katalog produk statis, live commerce menawarkan pengalaman yang lebih interaktif. Konsumen dapat melihat demonstrasi produk secara langsung, mengajukan pertanyaan, mendapatkan rekomendasi, bahkan memperoleh promo eksklusif yang hanya tersedia selama siaran berlangsung.

Namun dibalik potensi tersebut, terdapat satu kesalahan yang masih sering dilakukan banyak brand: masuk ke live commerce tanpa data.
Mereka melihat kompetitor rutin melakukan live, mendengar cerita sukses seller yang memperoleh omzet ratusan juta rupiah dalam beberapa jam, lalu memutuskan mengikuti tren yang sama. Sayangnya, keputusan yang hanya didasarkan pada asumsi sering kali menghasilkan strategi yang tidak efektif.
Live commerce bukan sekadar soal menyalakan kamera dan mulai berjualan. Di balik setiap sesi live terdapat ribuan percakapan, perilaku audiens, preferensi konsumen, sentimen pasar, hingga tren yang terus berubah setiap waktu. Semua itu adalah data. Dan data tersebut menentukan apakah sebuah live akan menghasilkan konversi atau hanya menjadi aktivitas pemasaran yang menghabiskan waktu dan anggaran.
Karena itu, sebelum brand ikut live commerce, ada satu pertanyaan penting yang harus dijawab terlebih dahulu:
Apakah Anda benar-benar memahami apa yang sedang dibicarakan pasar?
Data adalah Kompas dalam Dunia Live Commerce
Dalam dunia bisnis modern, keputusan terbaik lahir dari pemahaman yang baik terhadap data. Hal yang sama berlaku dalam live commerce.

Tanpa data, brand tidak mengetahui:
- Platform mana yang paling banyak dibicarakan.
- Jam berapa audiens paling aktif.
- Topik apa yang sedang menjadi perhatian konsumen.
- Jenis promo apa yang paling diminati.
- Keluhan apa yang paling sering muncul.
- Faktor apa yang mendorong pembelian.
Akibatnya, banyak brand terjebak pada aktivitas yang terlihat sibuk tetapi tidak menghasilkan dampak signifikan.
Sebaliknya, brand yang menggunakan data memiliki kemampuan untuk memahami pasar sebelum mengambil keputusan. Mereka dapat mengetahui apa yang sedang dicari audiens, bagaimana perilaku mereka berubah, dan bagaimana cara meresponsnya secara cepat.
Dalam konteks live commerce, data berfungsi sebagai kompas yang membantu brand menentukan arah strategi.
Tanpa kompas, brand hanya mengikuti keramaian.
Dengan kompas, brand tahu ke mana harus melangkah.
Percakapan Digital Menunjukkan Siapa yang Mendominasi Pasar
Hasil analisis social listening terhadap percakapan live commerce Indonesia selama periode 4 Mei hingga 3 Juni 2026 menemukan sebanyak 2.586 percakapan aktif terkait live commerce.
Jumlah tersebut mungkin terlihat kecil dibandingkan volume keseluruhan percakapan digital. Namun yang lebih penting adalah kualitas insight yang terkandung di dalamnya.
Dari seluruh percakapan yang dianalisis, TikTok Shop mendominasi dengan 56% share of voice.
Sementara itu:
- Shopee Live: 18%
- Instagram Live: 16%
- Tokopedia Live: 10%

Temuan ini menunjukkan bahwa ketika masyarakat Indonesia berbicara tentang live commerce, mayoritas percakapan terjadi di sekitar TikTok Shop.
Bagi banyak brand, informasi seperti ini sangat penting.
Mengapa?
Karena salah satu kesalahan terbesar dalam pemasaran digital adalah menganggap semua platform memiliki tingkat perhatian yang sama.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Ada platform yang menjadi pusat perhatian audiens, ada yang menjadi pelengkap, dan ada pula yang memiliki peran khusus untuk segmen tertentu.
Dengan memahami distribusi percakapan ini, brand dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif.
Mengapa TikTok Shop Mendominasi?
Dominasi TikTok Shop bukanlah kebetulan.
Platform ini berhasil menggabungkan tiga elemen penting yang sangat kuat dalam dunia digital:
1. Hiburan
Konten video pendek membuat audiens terbiasa mengkonsumsi informasi dengan cepat dan menarik.
2. Komunitas
Fitur komentar, interaksi real-time, dan algoritma rekomendasi menciptakan percakapan yang aktif.
3. Transaksi
Pengguna dapat langsung membeli produk tanpa harus meninggalkan platform.
Kombinasi ketiga elemen tersebut menghasilkan pengalaman yang lebih mulus dibandingkan banyak platform lainnya.

Tidak heran jika hashtag terkait TikTok Shop Live menjadi salah satu topik yang paling banyak dibicarakan dalam periode pengamatan.
Bagi brand, dominasi ini merupakan sinyal penting bahwa strategi live commerce tidak bisa lagi dilepaskan dari pemahaman terhadap ekosistem TikTok.
Sentimen Positif Menunjukkan Peluang yang Besar
Salah satu temuan paling menarik dari hasil social listening adalah tingginya sentimen positif dan netral.
Data menunjukkan:
- Positif: 55%
- Netral: 39%
- Negatif: 6%
Artinya, sebanyak 94% percakapan tidak menunjukkan resistensi terhadap live commerce.
Banyak audiens justru aktif mencari:
- Promo
- Diskon
- Rekomendasi produk
- Review pengguna
- Informasi produk
- Perbandingan harga
Bagi brand, kondisi ini menciptakan peluang yang sangat besar.
Audiens tidak datang ke live commerce hanya untuk melihat-lihat.
Mereka datang dengan niat tertentu.
Mereka ingin mencari nilai terbaik.
Mereka ingin memastikan produk yang dibeli sesuai kebutuhan.
Mereka ingin mendapatkan keuntungan tambahan melalui promo atau diskon.
Dengan kata lain, mayoritas audiens live commerce berada dalam kondisi yang relatif dekat dengan keputusan pembelian.
Harga dan Promo Masih Menjadi Raja
Ketika percakapan live commerce dianalisis lebih dalam, ditemukan bahwa harga dan promo menjadi topik terbesar dengan porsi mencapai 48%.
Di bawahnya terdapat:
- Kualitas produk: 26%
- Pengiriman: 16%
- Host dan seller: 10%
Data ini memberikan pesan yang sangat jelas.
Meskipun pengalaman live penting, konsumen Indonesia masih sangat sensitif terhadap nilai yang mereka dapatkan.
Mereka mencari:
- Flash sale
- Voucher
- Cashback
- Gratis ongkir
- Diskon bundling
- Harga spesial saat live
Namun ada hal menarik yang sering luput diperhatikan.
Promo memang mampu menarik perhatian.
Tetapi kualitas produk dan pengalaman pelanggan tetap menentukan apakah pembeli akan kembali atau tidak.
Karena itu, strategi live commerce yang hanya berfokus pada diskon biasanya tidak bertahan lama.
Brand perlu membangun kombinasi antara harga kompetitif, kualitas produk, dan pengalaman pelanggan yang baik.
Flash Sale Adalah Trigger Konversi Terbesar
Dalam percakapan yang dianalisis, istilah "flash sale" muncul sebagai salah satu pemicu sentimen positif tertinggi.
Mengapa flash sale begitu efektif?
Jawabannya terletak pada psikologi konsumen.
Flash sale menciptakan:
- Rasa urgensi
- Rasa kelangkaan
- Ketakutan kehilangan kesempatan (FOMO)
- Dorongan untuk bertindak cepat
Ketika konsumen melihat bahwa promo hanya berlangsung selama beberapa menit, mereka cenderung membuat keputusan lebih cepat dibandingkan kondisi normal.
Namun efektivitas flash sale tetap bergantung pada data.
Tanpa memahami kapan audiens aktif dan produk apa yang paling diminati, flash sale hanya menjadi diskon biasa.
Sebaliknya, ketika didukung oleh insight yang tepat, flash sale dapat menjadi mesin konversi yang sangat kuat.
Jangan Abaikan Percakapan Negatif
Meskipun hanya mewakili 6% dari total percakapan, sentimen negatif memiliki dampak yang jauh lebih besar dibandingkan volumenya.
Dalam analisis yang dilakukan, isu negatif terbesar berasal dari:
Barang Tidak Sesuai
Konsumen merasa produk yang diterima berbeda dengan yang ditampilkan saat live.
Pengiriman Lambat
Masalah logistik masih menjadi sumber keluhan yang cukup signifikan.
Informasi yang Tidak Akurat
Penjelasan host tidak sesuai dengan kondisi produk sebenarnya.
Masalah seperti ini dapat berkembang dengan cepat menjadi krisis reputasi.
Di era media sosial, satu pengalaman buruk dapat tersebar ke ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu singkat.
Karena itu, monitoring percakapan negatif menjadi bagian penting dari strategi live commerce.
Brand yang mampu mendeteksi keluhan lebih awal memiliki peluang lebih besar untuk mengendalikan situasi sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Mengapa Social Listening Menjadi Senjata Penting?
Jika live commerce adalah arena percakapan, maka social listening adalah alat untuk mendengarkan.
Social listening memungkinkan brand memantau percakapan publik secara real-time dan memahami apa yang sedang terjadi di pasar.
Melalui social listening, perusahaan dapat mengetahui:
- Topik yang sedang tren.
- Sentimen audiens.
- Keluhan pelanggan.
- Aktivitas kompetitor.
- Potensi krisis reputasi.
- Peluang kampanye baru.
Lebih dari itu, social listening membantu brand memahami konteks di balik data.
Bukan hanya mengetahui apa yang dibicarakan, tetapi juga mengapa percakapan tersebut terjadi.
Inilah yang membedakan data mentah dengan insight yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan bisnis.
Tiga Pelajaran Penting bagi Brand
Berdasarkan hasil analisis live commerce Indonesia, terdapat tiga pelajaran besar yang perlu diperhatikan.
Pertama: Ikuti Percakapan, Bukan Sekadar Tren
Banyak brand masuk ke platform tertentu hanya karena sedang populer.
Padahal yang lebih penting adalah memahami dimana audiens target mereka benar-benar aktif.
Kedua: Promo Harus Didukung Insight
Diskon tanpa strategi hanya mengurangi margin.
Promo yang didasarkan pada pemahaman audiens memiliki peluang jauh lebih besar menghasilkan konversi.
Ketiga: Respons Cepat Menentukan Reputasi
Percakapan negatif tidak bisa diabaikan.
Semakin cepat brand merespons, semakin kecil peluang masalah berkembang menjadi krisis.
Masa Depan Live Commerce Akan Semakin Berbasis Data
Ke depan, persaingan live commerce tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling sering siaran.
Persaingan akan ditentukan oleh siapa yang paling memahami audiens.
Brand yang mampu membaca data akan lebih unggul dalam:
- Menentukan produk yang tepat.
- Menentukan waktu yang tepat.
- Menentukan promo yang tepat.
- Menentukan host yang tepat.
- Menentukan strategi komunikasi yang tepat.
Sementara brand yang hanya mengandalkan intuisi akan semakin tertinggal.
Karena volume percakapan digital akan terus meningkat.
Dan di tengah lautan informasi tersebut, data menjadi satu-satunya cara untuk menemukan arah yang jelas.
FAQ Seputar Live Commerce dan Social Listening
Apa itu live commerce?
Live commerce adalah aktivitas penjualan produk melalui siaran langsung yang memungkinkan interaksi real-time antara penjual dan konsumen.
Mengapa live commerce penting bagi brand?
Karena live commerce mampu meningkatkan engagement, membangun kepercayaan, dan mempercepat proses pembelian.
Apa itu social listening?
Social listening adalah proses memantau dan menganalisis percakapan digital untuk memahami opini, sentimen, dan perilaku audiens.
Mengapa social listening penting untuk live commerce?
Karena membantu brand memahami apa yang dicari konsumen, apa yang mereka sukai, dan masalah apa yang perlu segera ditangani.
Apa manfaat utama data dalam live commerce?
Data membantu brand mengambil keputusan yang lebih akurat terkait platform, promo, produk, waktu siaran, dan strategi komunikasi.
Kesimpulan
Live commerce bukan lagi masa depan. Live commerce adalah realitas bisnis saat ini.
Data percakapan menunjukkan bahwa TikTok Shop mendominasi perhatian publik, sentimen audiens sebagian besar positif, dan promo masih menjadi faktor utama yang mendorong konversi.
Namun data yang sama juga menunjukkan adanya tantangan yang perlu diantisipasi, mulai dari kualitas produk hingga pengalaman pelanggan.
Karena itu, brand tidak bisa lagi mengandalkan asumsi.
Sebelum memulai live commerce, pahami terlebih dahulu apa yang dibicarakan pasar.
- Dengarkan audiens.
- Analisis percakapan.
- Temukan insight.
- Lalu ambil keputusan.
Karena tanpa data, brand hanya mengikuti tren.
Dengan data, brand memiliki arah.
Ribuan Percakapan Terjadi Setiap Detik. Brand Anda Sudah Mendengarkan?
MediaWave Interaktif membantu perusahaan memahami percakapan digital melalui layanan Social Media Monitoring, Social Listening, Sentiment Analysis, Online Reputation Management, Competitive Intelligence, dan Trend Forecasting.
Dengan pengalaman lebih dari satu dekade dalam menganalisis jutaan percakapan digital Indonesia, MediaWave membantu brand mengubah data menjadi strategi yang lebih tepat, lebih cepat, dan lebih berdampak.
Jangan hanya melihat tren live commerce. Pahami percakapannya.
Karena brand yang menang bukan hanya yang paling sering tampil, tetapi yang paling memahami audiensnya.
Pelajari lebih lanjut di mediawave.id atau hubungi tim MediaWave Interaktif untuk mendapatkan demo dan konsultasi kebutuhan bisnis Anda.

